Industri otomotif di Cikarang dan Karawang sangat bergantung pada komponen aluminium karena bobotnya yang ringan dan kemampuan pelepasan panas yang baik. Namun, proses casting (pengecoran) dan pemesinan kecepatan tinggi dapat menimbulkan retakan halus (hairline cracks) yang jika lolos ke tangan konsumen, dapat menyebabkan kegagalan mesin fatal.
1. Keterbatasan Inspeksi Visual
Pemeriksaan mata manusia memiliki keterbatasan dalam hal konsistensi dan kecepatan. Retakan pada dinding silinder atau saluran oli seringkali tertutup oleh sisa cairan pendingin (coolant) atau debu gram. Di sinilah teknologi Eddy Current dari Marposs mengambil peran.
2. Teknologi Eddy Current (NDT)
Melalui Samudra Teknik Pratama, kami menghadirkan sistem inspeksi non-destruktif (NDT) yang bekerja dengan prinsip induksi elektromagnetik:
- Deteksi Tanpa Kontak: Sensor bergerak di dekat permukaan komponen tanpa menyentuhnya, memindai adanya diskontinuasi pada struktur material.
- Kecepatan Tinggi: Proses pemindaian hanya memakan waktu beberapa detik, cocok untuk lini produksi massal yang mengejar target cycle time.
- Akurasi Kedalaman: Sistem ini mampu mendeteksi bukan hanya retakan di permukaan, tetapi juga cacat di bawah permukaan kulit komponen.
3. Integrasi “Turn-Key” oleh STP Indonesia
Banyak perusahaan di Bekasi menghadapi kesulitan saat mencoba mengintegrasikan stasiun pengecekan retak ke dalam lini otomatis mereka. STP Indonesia memberikan solusi total:
- Automated Station: Kami merancang sel mekanis yang membawa blok mesin menuju sensor secara otomatis.
- Data Logging: Setiap blok mesin memiliki rekam jejak digital. Jika ditemukan cacat, sistem akan otomatis memisahkan barang tersebut ke area karantina.
4. Menjaga Reputasi Brand
Dengan menerapkan sistem deteksi retak Marposs, produsen tidak hanya menghemat biaya dari potensi penarikan produk (recall), tetapi juga memberikan jaminan keamanan absolut kepada pengguna akhir. Bersama Samudra Teknik Pratama, kualitas bukan lagi sebuah variabel, melainkan sebuah kepastian.
